Jumat, 09 November 2012

Menghapus pesan outbox



“met pagi pak” aku menyapa kerabat kerjaku, otomatis terucap begitu kubuka pintu kantor itu

“pagi juga..”dia menyahut pelan, seraya menjaga ketengan ruangan.

Pagi itu masih pukul 6 pagi, belum ada karyawan lain selain kami berdua. Ruangan berukuran 3 x 5 meter itu sebenarnya sesak dengan meja dan kursi,. Ada 3 deret meja yang disusun memanjang, 2 deretnya disusun saling berhadapan, deret lainnya hanya terpisah sebuah jalan kecil yang hanya bisa dilewati satu orang saja. Bisa dibayangkan bagaimana ramai dan sumpeknya ruangan itu ketika semua karyawan sudah memulai aktivitasnya di ruangan kecil itu. Yang membuatnya nyaman hanya AC dengan kapasitas 1 PK itu aja, jika sedang rusak, bisa dipastikan kami bakal bekerja bagai dalam ruangan sauna.

Bukan tanpa alasan kami datang sepagi itu, alasan yang paling kuat adalah bisa lebih berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaan, termasuk penggunaan internetnya, pasti lebih cepat karena tak perlu bersaing dengan pengguna lainnya. Selain itu, posisi kami sekarang adalah di lokasi kerja, butuh perjalanan laut selama 3 jam hingga sampai ke tempat itu, tak ada pasar apalagi mall, bagaimana tidak, ketika  keluar kamar, yang terlihat hanyalah laut, dan atau setidaknya ada beberapa kapal yang mengantarkan karyawan lain ataupun barang2 kebutuhan untuk pekerjaan proyek. Jangan berharap ada semacam pasar terapung, kapal nelayan pun dilarang buat masuk area itu. Padahal tempat kami bekerja itu terkenal dengan banyak ikannya dikarenakan air di sana lebih hangat dikarenakan proses penyedotan gas bumi. Tak ada yang bisa dilakukan setelah sholat shubuh selain kembali tidur atau langsung menuju ruangan kerja yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari ruang kami.

Aku langsung menghidupkan PC-ku, suasana hening di kantor mulai meredup setelah 2 motor dari PC kami seperti sedang berpacu. Belum lama PC-ku hidup dengan sempurna sebuah pesan masuk. Dari Riki, dari siapa lagi kalau bukan dari dia. Pesan itu bisa terhubung antar PC, selain bisa mengirimkan pesan, kita juga bisa mengirimkan file tanpa harus melewati sebuah flash disk ataupun external hard disk. Pesan ini sendiri baru aktif setelah si pengguna PC sudah sempurna mengaktifkan PC-nya. Pagi itu usernya hanya 2, aku dan Riki

Riki H   :     “Internetnya gangguan ya?”

Ari_S   :     “Tunggu sebentar pak, kuperiksa dulu”

Aku bergegas membuka M. outlook, proses send/receive otomatis jalan, download 35 email dengan sekejap sudah memenuhi inbox-ku, kucoba buka mbah google, kuketik sembarang kata, dengan cepat google langsung mencari kata itu. Belum selesai si mbah google mencari, langsung kumatiin saja, pagi itu aku tak terlalu berminat menjelajah internet. Kubuka kembali pesan PC itu, usernya masih kami berdua.

Ari_S   :     “Bagus pak, email2ku dah masuk kok, google juga berhasil masuk kok”

Riki H   :     “Masak sih? Kok emailku nggak terkirim2 yah?”

Ari_S   :     “Bapak kirim email lewat mana?”

Riki H   :     “Outlook nih, kamu nggak lagi kerjain aku lagi kan?”

“Hahaha, ya nggak lah paak” Tawaku spontan memecah kesunyian, segera aku berdiri, suara gesekan antara kursiku dan lantai makin menambah riuh ruangan itu, kusamperin meja beliau, tak terlalu jauh memang, kami berkomunikasi lewat pesan PC hanya untuk menjaga ketenangan kantor – selain karena malas buat banyak bicara. Posisi kami sebenarnya berhadapan, namun terpisah dengan satu meja yang searah denganku.

“Coba kuliat sebentar” seraya mengambil mousenya. Riki bergeser sedikit, memberikan sedikit ruang buatku biar mempermudah pemeriksaan. Kubuka outbooknya dan tersenyum.
“nggak usah senyum2 gitu nah, kamu bukan lagi kerjain aku kan?” Riki bertanya dengan nada canda.
“hehe, ya nggak lah pak, coba deh bapak liat sendiri, berapa kapasitas email yang mau bapak kirim?” balasku sambil menunjuk2 ke layar computer.

“30 MB aja kan? Nggak bisa kah? Riki bertanya pelan, menjadi tidak yakin dengan apa yang baru saja dikerjakannya.

“Waduh Pak, di lokasi kita ini, kirim 5 MB aja butuh waktu 1 jam Pak, bisa terkirim setengah jam aja udah jadi berkah yang luar biasa” jawabku bersemangat, walau sebenarnya sedikit berlebihan. Tertawa dalam hati,“langsung dihapus aja Pak” lanjutku kemudian

Tak menunda2 lagi, Pak Riki langsung mencobanya, klik kanan di outlook itu dan memilih kata delete. Tak ada reaksi apa2, pengiriman masih terus berlangsung, dicobanya sekali lagi, klik kanan dan memilih delete, masih belum ada tanda2 pesan berhenti terkirim, apalagi hilang dari list outbox itu. Makin terlihat tak sabar, Pak Riki mulai menekan2 tombol delete, terdengar jelas bagaimana dia menekan tombol delete dari keyboardnya. Makin keras ketika melihatku tersenyum, bahkan nyaris tertawa.

“kayaknya cara seperti itu gak akan bisa dilakukan selama proses pengiriman Pak” jawabku santai

“trus gimana? Dibiarkan sampe terkirim aja kah” tanya Pak Riki, masih sambil usaha menekan tombol delete

“ya nggak juga, tetap harus dibatalkan kalau nggak mau kerjaan lainnya terganngu” jawabku datar “loh, kok dimatiin?” tanyaku kemudian, terkaget karena Pak Riki lebih memilih buat mematikan outlooknya, bahkan melakukan restart  PC-nya.

“nggak sabar aku nah, lama banget” sahut Pak Riki “kita liat berhasil nggak cara seperti ini?” sambungnya kemudian, terlihat jelas wajahnya, penuh dengan rasa penasaran

Aku tertawa aja, “nggak akan bisa Paaak…” jawabku seraya tersenyum. “kita tunggu sampai ni PC dah hidup sempurna ya..”

PC akhirnya kembali hidup dengan sempurna,  antivirus juga sudah selesai melakukan tugasnya secara otomatis begitu PC dinyalakan. Tak menunggu waktu lama, Pak Riki langsung membuka outlooknya, dan benar aja, 1 pesan di outbook masih saja tergantung di sana.

“Caranya seperti ini Pak” aku kemudian berdiri dan mendekati CPU yang memang ditaruh di atas meja, berada tepat di samping layar monitor 17” itu. Kucabut kabel data yang menghubungkan setiap PC ke server lokasi kami bekerja. “sekarang coba delete lagi Pak, seperti yang tadi bapak lakukan”

Tanpa berbicara, Pak Riki langsung mengulangnya, klik kanan di pesan yang ada di outbox itu, kemudian memilih delete, dan langsung mengangkat kedua tangannya “Berhassiiiilllllll……” teriaknya puas kemudian tertawa.

Aku ikut tertawa. “emang file apa yang tadi bapak coba kirim?” sahutku kemudian

“file pdf ini nih, dan hanya beberapa foto” jawab Pak Riki sambil mencoba membuka file yang tadi hendak dikirimnya “kalo gitu kirimnya gak sekaligus aja kali ya..?”

Kuamati sebentar, kuperiksa resolusinya “ini bisa sekaligus dikirim pak, tapi mesti dikompres dulu.., boleh nggak?” kutanya balik

“Yang penting masih bisa terbaca, tak masalah mau kau kompres sampai sekecil apa” jawab Pak Riki sambil mengangguk tanda setuju

“Harus segera dikirim kah Pak?” kutanya lagi, memastikan apakah itu dokumen penting yang harus segera dikirim atau nggak

“ya nggak juga, di kantor pusat kita kan jam segini belum ada orang, agak siang juga nggak masalah” jawab pak Riki mantap

“ya udah, nanti insyaAllah kubantu compress file itu deh, tenang aja, yang penting kita sarapan dulu yuk” pintaku seraya berjalan menuju satu2nya pintu yang ada di pojok ruangan kami

“belum sarapan juga yah? Oke deh kalo gitu” jawab pak Riki, mengikutiku keluar dari ruangan itu.

4 komentar:

  1. beuuuh... lakiiii... keren euy bisa nulis cerpen :*
    dialog dari si Riki kok banjarnya kerasa banget ya? Hehhehe....

    BalasHapus
  2. hahaha, namanya juga latihan..;)

    BalasHapus